Izzi_tea

Apakah Cinta harus diperjuangkan?

Saat membaca salah satu tulisan Ust.Anis Matta yg berjudul “Tragedi Cinta”… hati ini berkata : Apakah ‘cinta’ harus diperjuangkan?, Ya!… Apakah harus diperjuangkan?, pertanyaan itu muncul ketika membaca sebuah kisah roman ‘pahlawan’ yg bernama As-Syahis Sayyid Quthub (tentu anda pasti mengenalnya, seseorang yg mampu melahirkan karya besar –Fi Zhilalil Qur’an-),dimana ternyata ada sebuah kisah “tragis” yg beliau alami :

“Kisah Sayyid Quthub bahkan lebih tragis. Dua kalinya ia jatuh cinta, dua kali ia patah hati, kata DR. Abdul Fattah Al-Khalidi yang menulis tesis master dan disertasi doktornya tentang Sayyid Quthub. Gadis pertama berasal dari desanya sendiri, yang kemudian menikah hanya tiga tahun setelah Sayyid Quthub pergi ke Kairo untuk belajar. Sayyid menangisi peristiwa itu.

Gadis kedua berasal dari Kairo. Untuk ukuran Mesir, gadis itu tidak termasuk cantik, kata Sayyid. Tapi ada gelombang yang unik yang menyirat dari sorot matanya, katanya menjelaskan pesona sang kekasih. Tragedinya justru terjadi pada hari pertunangan. Sambil menangis gadis itu menceritakan bahwa Sayyid adalah orang kedua yang telah hadir dalam hatinya. Pengakuan itu meruntuhkan keangkuhan Sayyid; karena ia memimpikan seorang yang perawan fisiknya, perawan pula hatinya. Gadis itu hanya perawan pada fisiknya.

Sayyid Quthub tenggelam pada penderitaan yang panjang. Akhirnya ia memutuskan hubungannya. Tapi itu membuatnya semakin menderita. Ketika ia ingin rujuk, gadis itu justru menolaknya. Ada banyak puisi yang lahir dari penderitaan itu. Ia bahkan membukukan romansa itu dalam sebuah roman.

Kebesaran jiwa, yang lahir dari rasionalitas, relaisme dan sangkaan baik kepada Allah, adalah keajaiban yang menciptakan keajaiban. Ketika kehidupan tidak cukup bermurah hati mewujudkan mimpi mereka, mereka menambatkan harapan kepada sumber segala harapan; Allah!

Begitu Sayyid Quthub menyaksikan mimpinya hancur berkeping-keping, sembari berkata, “Apakah kehidupan memang tidak menyediakan gadis impianku, atau perkawinan pada dasarnya tidak sesuai dengan kondisiku?” Setelah itu ia berlari meraih takdirnya; dipenjara 15 tahun, menulis Fi Dzilalil Qur’an, dan mati di tiang gantungan!”

Kisah diatas menggambarkan kepada kita, bagaimana kuatnya beliau (Sayyid Quthub) bisa menjalani sebuah “penderitaan”, “penderitaan” yg bisa beliau rasionalisasikan dengan sangkaan baik kepada Allah, dan yang apabila kita mengutip kembali kata-kata Ust.Anis “Ada sisi lain yang menarik dari pengalaman emosional para pahlawan yang berhubungan dengan perempuan. Kalau kebutuhan psikologis dan bilogis terhadap perempuan begitu kuat pada para pahlawan, dapatkah kita membayangkan seandainya mereka tidak mendapatkannya? Rumah tangga para pahlawan selalu menampilkan, atau bahkan menjelaskan, banyak sisi dari kepribadian para pahlawan. Dari sanalah mereka memperoleh energi untuk bekerja dan berkarya. Tapi jika mereka tidak mendapatkan sumber energi itu, maka kepahlawanan mereka adalah KEAJAIBAN DI ATAS KEAJAIBAN”…..

Ya, tapi apakah semua orang mampu mendatangkan “keajaiban di atas keajaiban”?. Saya pun kembali bertanya dalam hati : Apakan cinta (yg di”legakan”) harus di perjuangkan, atau kita hanya menunggu dan berkata “ahh.. Klo udah Jodoh ga akan kemana”.  Atau apakah kita bisa sekuat Sayyid Quthub?… yang mungkin apabila kita lebih memperjuangkan, yang mungkin dengan itu energi untuk bekerja dan berkarya akan muncul karya yg lebih dasyat lagi..  karya yg melebih dari “keajaiban di atas keajaiban”…

// catatan ini bukan sebuah pernyataan (user) akan kehidupan pribadinya, tapi sebuah pertanyaan (maaf) kepada para Murabbi, yg saya sendiri mendengar langsung dan membaca beberapa artikel tentang “restu” para murabbi terhadap calon pendamping, dimana terkadang para murabbi hanya “merestui” calon tersebut jika dipilihkannya (dengan Husnudzan bahwa MB akan memberikan yg terbaik untuk kita, tapi kenapa tidak mempetimbangkan calon yg kita pilih??)

Apakah salah memperjuangkan cinta yg telah di legalkan Allah dan Rasul-NYa, cinta yg berproses ahsan tanpa melibatkan maksiat di dalamnya…????

About these ads
This entry was published on Juni 11, 2009 at 3:41 am and is filed under Yaumi. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

5 thoughts on “Apakah Cinta harus diperjuangkan?

  1. titintitan on said:

    CINTA hrs diperjuangakan…. *stlah byk mbaca buku2 anis matta, itu yg simpulkan. tentu dlm koridor syar’i*

    • duh maaf neh,,, cuap-cuap di atas cuman curhatan saja, bukan kesimpulan.. :)

      // curhatan tentang sebagian para guru (Murabbi)yg bersikap “Birokrastis”, tentang pilihan pendamping hidup :D,, karena masih banyak bro.. guru2 yg berfaham “ga boleh milih sendiri”, sementara tidak ada lalarang (Syar’i) klo g boleh “memilih sendiri”. tentu dlm koridor syar’i.. bukan begitu bro.. :D

  2. titintitan on said:

    hmm… disini sist bukan bro :D

    • Duh maaf Sist.. salah sendiri nickname nya “titintitan”… itu ada artinya klo dalam B.sunda dan kata itu biasanya di pake sama Bro-Bro…. getooo :)

  3. Memperjuangkan cinta itu bnr” berat .
    Apa lg, klw k’adaan brlawanan dr yg kta mau.
    Kalau ttp brthan sprti’x hrs bnyk mngluarkan air mata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: