Izzi_tea

Kewajiban Lebih Banyak dari Waktu yang Tersedia

Emang bener juga apa yang dikatakan As-Syahid Hasan Al-Bana bahwa waktu itu lebih sedikit dari kewajiban kita sebagai hamba yang telah bertransaksi akan “menggadaikan ” hidup dan matinya dijalan Allah SWT. Coba saja liat misalnya ada seorang Akh yang kerja dipagi sampai sore trus malamnya ada kegiatan disana-sini, amanah sana-sini, kerjaan tambahan selain dikantor dan lainnnya, trus terkadang suka diamanahi lagi amanah yang lain. Pokoknya diporsir deh Bos. dan Akhir cerita Sakit Dah (Kecapean dan makan ga teratur).

Itu sih gambaran dari ane aja, yang tidak mewakili dari semua Akh yang mempunyaitime-cut-2570 banyak amanah. Tapi Intinya bahwa KEWAJIBAN KITA LEBIH BANYAK DARI WAKTU YANG TERSEDIA itu emang bener. Tapi menurut pengamatan ane hanya orang “tertentu” yang membenarkan pernyataan As-Syahid Hasan Al-Bana dalam artian setiap anamah yang diberikan pasti kepada orang yang “sibuk” karena jika amanah diberikan kepada orang yang “malas (ga ada kesibukan)” biasanya ga beres.

Ehm.. Sekarang terlepas dari PRO dan MEGA (ups mega pro maksudnya…. bukan pro MEGA) ada sebuah tulisan yang cukup bagus tentang judul diatas///// (slamat menyimak dan jangan pindah chanel OK ^_^)

Kewajiban “lebih banyak” dari waktu….

Rasulullah SAW adalah orang yang sangat mengerti ‘kaidah’ itu. Jika berjalan, menurut para sahabatnya, seolah-olah bumi ini digulirkan untuk beliau. Karena sanking cepatnya beliau berjalan, seolah-olah ada urusan penting yang harus segera diselesaikan. Kanjeng Nabi SAW tidak pernah terlihat tenang. Dia terus memikirkan Islam. Memikirkan umat ini. Beliau terus mencari ‘celah’ untuk menyampaikan dakwahnya kepada umat manusia. Bahkan, menjelang wafatnya yang dia ingat bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa selain “ummati, ummati”, umatku, umatku. Ya Rasulullah, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadamu selalu.

Kaidah penting itu sering kita ubah dan kita balik. Kita merasa waktu ini begitu panjang dan banyak. Maka kita pun selalu berleha-leha. Pekerjaan yang menumpuk biasanya ‘dapat’ kita selesaikan lewat sistem “SKS” (Sistem Kebut Semalam). Tentu saja hasilnya tidak akan maksimal. Karena kita anggap waktu kita banyak, maka yang terjadi adalah penundaan amal. Shalat diakhirkan, karena –menurut kita–waktunya masih panjang. Bayar hutang ditangguhkan, karena kita ‘yakin’ dapat hidup kita 1000 tahun lagi.

‘Umar ibn ‘Abdul Aziz pernah tidak jadi istirahat, karena ditegur oleh anaknya. Ketika ingin merebahkan tubuhnya di atas dipan, anaknya bertanya, “Ayahanda, kenapa istirahat?” “Ia, tubuh ayah lelah sekali setelah seharian keliling melihat aktivitas dan keadaan umat ini,” jawab ‘Umar dengan mantap. “Ayah, cepat bangun dan keliling lagi. Lihat urusan umat!” kata anaknya. “Ayah mau rehat sebentar saja, setelah itu baru keliling lagi,” jawab ‘Umar. Apa kata anaknya kemudian? “Apakah ayah bisa menjamin katika ayah bangun masih hidup dan bisa melihat urusan umat Islam?” ‘Umar terperanjat mendengar pertanyaan anaknya ini. Dia langsung melompat dan memakai gamisnya kembali untuk keliling melihat keadaan umat Islam. Subhanallah!

Dimana posisi kita dibanding khalifah yang mulia itu? Sungguh, pekerjaan dan tugas kita untuk umat ini lebih banyak dibanding waktu yang disediakan oleh Allah. Semua itu butuh manajemen yang baik dan rapi. Jika kita, kita tidak akan pernah menghargai waktu yang ada. Allah sudah menggariskan bahwa manusia –siapapun orangnya–akan merugi, jika hari-harinya selama di dunia ini tidak diisi dengan: [1] peningkatan iman kepada Allah; [2] beramal saleh. Amal yang baik untuk kemaslahatan agama (Islam), keluarga, bangsa dan negara bahkan untuk dunia; [3] saling menasehati dalam menapaki ‘rel’ kebenaran; dan [4] saling menasehati dalam menetapi kesabaran. (Qs. al-‘Ashar: 1-3).

Dakwah Islam butuh orang-orang yang menghargai waktu. Pekerjaan butuh waktu yang di-manage dengan baik dan rapi. Amal kita pun butuh disediakan waktu yang cukup. Sekarang kita baru sadar, bahwa sudah banyak waktu yang kita hamburkan. Sekarang kita baru tahu, bahwa kewajiban kita seabrek. Sementara waktu hanya 24 jam saja yang disediakan oleh Allah. Itu belum dipotong waktu untuk mandi, makan, minum dan istirahat. Semoga Anda setuju dengan refleksi ini. Wallahu a‘lamu bi al-shawab.[]

“Ya Allah, jadikankah kami orang-orang yang sadar akan waktu. Bimbing kami agar terus dapat istiqamah beramal. Semoga waktu yang singkat di dunia ini menjadi waktu yang bernas, full dengan amal, penuh dengan kesalehan dan sarat ibadah kepada-Mu” http://qosim.multiply.com/journal/item/222/222

Nah Sekarang tinggal comment & Sharing, Silahkan isi Comment OK!!!

This entry was published on Desember 12, 2008 at 2:57 pm. It’s filed under Yaumi and tagged . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: