Izzi_tea

“Uang”

uanghttp://anismatta.blog.friendster.com/

ini adalah bagian dari ceramah saya ketika Jaulah, sekedar ide semoga bermanfaat dan menjadi bahan untuk didiskusikan, meski ada Ikhwah yang mengatakannnya Anismismi ( ajaran anis) yang terkesan glamour dan konsumtif… tapi sekali lagi ini adalah sekedar ide…

Bismillah,
Ikhwan dan Akhwat sekalian,

Alhamdulillah kita
dipertemukan oleh Allah dipagi hari ini, walaupun kemarin saya ragu- ragu
apakah saya bias hadir hari ini atau tidak. Istri saya sakit demam berdarah dan
dirawat dirumah sakit hingga hari ini. Alhamdulillah hari ini ada perbaikan
sedikit dan bisa ditinggal. Selain itu, rasanya sudah rindu sama antum semuanya
karena cukup lama tidak kesini. Sebenarnya saya punya rencana kunjungan kesini
pada bulan januari yang lalu dalam rangkaian jaulah ke 13 DPW bersama 13
pengurus Bidang Kaderisasi dan Bidang Pembinaan Wilayah. Rencana itu dibatalkan
karena saat itu sedang musim pesawat jatuh, jadi ada 8 DPW yang kita pending
perjalanannya termasuk kekota

Pekan Baru ini.

Ikhwan sekalian.
Pagi ini kita bicara tentang uang. Sudah lama sekali saya mengusulkan bagian
kurikulum di departemen kaderisasi untuk memasukkan pokok bahasan tentang uang.
Gagasan- gagasan itu mulai muncul ketika saya dahulu berada diawal dakwah ini.
Salah satu pekerjaan yang saya lakukan adalah Lajnah Minhaj, di Bidang
Kaderisasi bersama kang Aus. Saat itu, saya ikut menyusun beberapa Materi
Tahmidi H1, H2. Kita memang tidak pernah berfikir untuk menyusun satu materi
tentang uang karena yang ada dibenak kita bahwa bagian- bagian dari tarbiyah
itu adalah tarbiyah ruhiyah, tarbiyah fikriyah dan tarbiyah jasadiyah. Ketika
kita membuat partai, kita menambah sedikit yaitu materi tarbiyah siyasiyah.

Jadi Kalau wasilah
dari tarbiyah ruhiyah itu banyak, ada Lailatul Katibah juga mutaba’ah yaumiyah.
Wasilah tarbiyah fikriyah juga banyak tatsqif dan macam- macam. Tarbiyah
Jasadiyah ada latsar ada mukhoyam. Tarbiyah siyasiyah sudah dengan sendirinya
karena ada wasilah berupa partai. Tapi kita semuanya menghadapi suatu benturan
realita yang disebabkan karena ada missing link dalam system berfikir kita.Ada satu kosa kata yang
tidak masuk kedalam benak kita padahal itu sangat menentukan masa depan kita
yaitu uang. Jika ada yang bertanya kenapa kita miskin maka jawabannya karena
memang kita tidak belajar masalah uang.

Ikhwan sekalian
Salah satu gejala benturan budaya yang sering kita lihat muncul bersama
munculnya orang- orang setengah kaya baru. Tapi itu tidak disebabkan karena
bibit- bibt kemiskinan itu memang ada dalam diri kita, ada dilingkungan kita,
bahkan ketika kita mulai membuat partai. Padahal kita belum kaya dan memang
belum kaya. Apabila kita memakai standard Kiyosaki, masuk dalam tahap amanpun
belum. Tapi sudah dianggap hanya kayak arena sdikit beda dengan teman- teman
ikhwah yang lain. Kita dianggap kaya karena memiliki mobil padahal mobil itu
kebutuhan pokok dalam fiqih Islam. Kita juga dianggap kaya karena bias bangun
rumah, padahal itu indicator dari garis kemiskinan. Rasulullah mengatakan
“Cukuplah bagi seorang Muslim itu bahwa dia punya sebuah rumah dan seorang
pembantu”. Jadi, rumah itu sama dengan pakaian. Hanya saja, dilingkungan kita,
banyak yang mempunyai anggapan, orang disebut kaya kalau sudah punya rumah.

Ikhwah sekalian
Oleh karena itu, banyak sekali yang bolong dalam tsaqafah kita tentang uang.
Kita bukan hanya salah membuat persepsi- persepsi itu, tetapi juga terkadang
mempunyai kecenderungan anti uang. Kalau istilah Ust Rahmat Abdullah ikhwah itu
sabar menderita tapi tidak sabar melihat orang lain lebih kaya. Makanya mudah
muncul gossip dikalangan orang yang punya sedikit kelonggaran secara financial,
apalagi kalau sebab kelonggaran finansialnya itu karena dia menjadi anggota
dewan. Jadi pada tahun 1999, saya jadi ketua tim khusus. Pada waktu itu sebagai
Sekjen saya tahu persis dimana letak daerah kuatnya PKS kalau saya mau jadi
anggota dewan.

Ketika
itu saya dicalonkan dariBandung

,

Jakarta

dan Sulawesi
Selatan atas usul DPW masing- masing. Nah, pilihan tertinggi jatuh pada
Sulawesi Selatan. Waktu itu saya belum mau jadi anggota dewan karena saya belum
punya rumah dan mobil. Saya tidak tidak mau bila nanti ada persepsi bahwa saya
punya mobil dan rumah karena jadi anggota dewan. Oleh karena itu saya pilih
Sulawesi Selatan. Jika saya pilih

Bandung

atau

Jakarta

pasti saya
terpilih jadi anggota dewan pada tahun 1999.

pasti saya terpilih jadi anggota
dewan pada tahun 1999.
Saya mengerti persepsi- persepsi, gossip dan fitnah tentang harta dikalangan
kita itu banyak disebabkan tsaqafah yang bolong tentang uang. Jadi, kita bukan
hanya tidak berbakat jadi kaya tapi juga tidak senang dengan orang kaya dan
cenderung anti kekayaan.

Kapan saatnya kita
mulai mengalami benturan keuangan. Yang pertama setelah kita punya anak. Dahulu
waktu saya kuliah, kita dimotivasi untuk cepat menikah oleh para murabbi kita,
dengan satu alasan kemaksiatan sudah merajalela disekitar kita, daripada kita
berzina lebih baik kita menikah. Kalau kita berargumen lagi bahwa kita belum
ada pekerjaan karena kita masih kuliah, jawabannya adalah: tawakkal ‘alallah,
innallaha Ghoniy, selurh alasan- alasan aqidah dikerahkan untuk mendorong kita
nikah.

Sebagian besar
angkatan saya menikah ditahun pertama waktu kuliah. Saat itu saya belum
menikah. Ditahun kedua lebih lebih banyak lagi yang menikah, saya belum
menikah. Ditahunketiga lebihbanyak lagi yang menikah. Saya termasuk yang telat
menikah pada waktu itu.

Tapi kemudian kita
menemukan fakta bahwa ikhwah-ikhwah yang menikah semasa kuliah itu sebagian
besar angka pelajarannya jeblok karena disibukkan dengan dakwah juga harus
mencari ma’isyah. Saya menikah ditahun keempat setelah angka saya stabil karena
naik satu point lagi. Dosen saya sampai mengatakan, kalau kamu ambil Master,
menikah satu kali lagi.

ada ikhwah yang mengatakan kepada saya, Masya Allah, Antum ini merencanakan sesuatu
dengan detail. Saya bilang antum punya semangat tapi tidak punya rencana bagus.

Jadi kita semua
mulai mengenal uang dan mempunyai persepsi bahwa uang itu perlu ketika anak
kita menangis. Ketika saya datang ke calon mertua –saat itu beliau anggota DPR
dan sudah 17 tahun menjadi petinggi Golkar- untuk melamar, dia bertanya kepada
saya: “Anak saya mau dikasih makan apa?” Saya bilang mungkin saya tidak share
dirumah bapak tapi Insya Allah tidak makan batu. Kemudian dia bertanya lagi,
“Pendapatan kamu berapa?” Saya jawab, saya ada beasiswa 200 ribu perbulan.
“Selain itu apa lagi?” Saya bilang tidak ada. “Masih kuliah”. Tapi waktu itu
istri saya mengancam, kalau tidak kawin dengan saya, dia tidak mau kawin lagi.
Akhirnya kita menikah juga. Jadi kita ini ikhwah learning by accident. Belajar
dari benturan.

Ikhwah sekalian
Rasanya saya sendiri sebenarnya tadinya tidak pernah tertarik mengenal uang
lebih jauh. Karena 6 tahun saya di Pesantren juga tidak pernah belajar uang.
Lima tahun setengah kuliah di LPIA Fakultas Syari’ah juga tidak pernah belajar uang
kecuali 1 bab dalam pelajaran Fiqh yaitu kitab zakat, itupun dalam orientasi
Amil Zakat, tidak ada orientasi menjadi muzakki. Saya mulai tertarik dengan
uang setelah mengalami benturan diawal tadi saya ungkapkan, juga benturan
ketika saya di Sekjen. Setelah jadi Sekjen itulah saya mulai menilai ada suatu
masalah besar yang akan kita hadapi kalau masalah- masalah ini tidak selesai.
Sejak itulah saya mempelajari hal ini. Sebelumnya meskipun saya mengajar
Ekonomi Islam di UI, banyak belajar dan membaca masalah- masalah ekonomi, juga
banyak membaca buku- buku bisnis dan bergaul dengan orang- orang bisnis, saya
belum seberapa tertarik secara langsung dan punya perhatian secara khusus
terhadap masalah uang. Ketertarikan itu mulai muncul setelah mengalami benturan
betapa sulitnya kita mendanai aktifitas kita setelah kita terjun di
perpolitikan ini.

Ikhwah sekalian
Saya ingin bicara 3 point supaya kita lebih terarah dalam soal uang.
Pertama, Mengapa Islam menyuruhkita kaya
Kedua, Mencari penjelasan tentang mengapa kita miskin
Ketiga, Bagaimana kita mulai merekonstruksi kehidupan financial kita.
Ibnu Abid Duni menjelaskan beberapa alasan tentang mengapa kita semua
diperintahkan menjadi kaya dalam Islam itu. Alasan Pertama, karena harta itu
tulang punggung kehidupan. Makanya orang kalau punya harta punggungnya rada
bungkuk sedikit. Antum lihat orang-orang Amerika kalau datang ke sini
tegap-tegap semua kan ,
karena punya duit. Pejabat-pejabat keuangan kita kumpul di CGI tunduk-tunduk
semua, karena mau pinjam duit. Allah mengatakan “Janganlah kamu berikan harta-
harta kamu kepada orang-orang bodoh (orang-orang yang tidak sehat akalnya)
yaitu harta harta yang telah Allah jadikan kamu sebagai yang membuat punggung
tegap”. Jadi Hidup kita tidak normal begitu kita tidak punya uang. Kita pasti
punya banyak masalah begitu kita tidak punya uang.

Alasan kedua,
peredaran uang itu adalah indicator keshalehan atau keburukan masyarakat.
Apabila uang itu beredar lebih banyak ditangan orang- orang jahat maka itu
indikasi bahwa masyarakat itu rusak. Apabila uang itu beredar di tangan orang-
orang shaleh maka itu indikasi bahwa masyarakat itu sehat.
MasyarakatIndonesia

ini rusak salah satu indikasinya karena karena orang- orang shalehnya sebagian
besar adalah para fuqara wa masakin. Ahlul Masjid dinegeri ini terdiri atas
fuqara wa masakin. Bahkan sebagian besar orang mungkin mengunjungi masjid bukan
karena benar- benar ingin ke Masjid, melainkan karena tidak punya tempat untuk
dipakai mengaktualisasikan diri. Antum lihat orang- orang tua yang dating
kemasjid biasanya orang yang kalah dalam pergulatan social. Kalau dia tentara,
biasa setelah pension baru dia ke masjid. Kalau dia pedagang biasanya setelah
dia bangkrut baru dia ke masjid.

Rasulullah SAW
mengatakan “ Sebaik- baik uang itu adalah uang yang beredar diantara orang-
orang shaleh”’ Jad Apabila kita yang ada disini tidak mengendalikan uang yang
ada di Riau, itu adalah tanda- tanda yang tidak bagus. Kenapa? karena kalau
uang itu berada ditangan orang- orang shaleh maka uang itu akan mengalir di
saluran- saluran yang baik. Kalau ibu- ibu disini dibagikan 1 Milyar kira- kira
uang itu akan diapakan. Buat daftar belanjanya. Antum bias lihat semuanya itu
belanja kebaikan. Pertama, pasti akan dipakai untuk potongan partai. Coba lihat
anggota DPR, begitu jadi anggota dewan yang pertama potongan buat partai.

Waktu itu ada
teman dari Golkar dan PPP, “Itu dana konstituen diapakan?” Kita jawab itu tidak
lewat kita, melainkan langsung ke Dapil (Daerah Pemilihan). Uang yang masuk
ketangan orang shaleh pasti mengalirnya di kebaikan juga. “Kalau gajinya berapa
dipotong? Kalau di Golkar Cuma 2,5 juta per bulan dipotong”. Kalau di PKS itu
bias 50 sampai 60 % dipotong. Jadi antum lihatdaftar belanjanya orang shaleh.
Kedua, untuk rihlah, kemungkinan itu pergi umrah atau menghajikan keluarga atau
naik haji sendiri.

Bapak- bapaknya
pun kalau punya uang 1 Milyar, tidak jauh- jauh dari situ juga; infak buat
partai, menyenangkan keluarga, dan operasional pribadi untuk dakwah pribadinya
juga. Semuanya di jalur kebaikan. Bila ada kenikmatan, tidak mungkin dia pergi
judi. Tidak mungkin juga dia pergi ke tempat prostitusi, paling- paling dia
cari jalur halal.

Tapi coba
sebaliknya, kalau uang itu beredar ditangan orang jahat, larinya juga pada
kejahatan. Salah seorang saudara saya cerita, waktu itu ada seorang kaya sangat
kaya di daerahIndonesia

.
Orangnya masih hidup sekarang. Dia punya private jet. Saking kayanya, dia suka
main judi ke

London

.
Pesawat private jet itu jenis Boeing. Jadi kalau pergi dia membawa rombongan,
biasanya dia parker disana 1 minggu atau 2 minggu. Itu kalau parker,

kan

bayar. Selama dia
main judi, dia persilahkan teman- temannya yang ingin pakai pesawatnya, seperti
layaknya meminjamkan mobil. Sekali main, biasanya bias rugi samapai 5 juta dollar,
meskipun kadang- kadang untung 8 juta dollar. Sekali waktu mereka main kesana,
sudah beberapa hari kangen dengan Nasi Padang. Dia bilang ke Pilotnya tolong ke

Singapore

beli Nasi

Padang

terus balik lagi ke

London

. Begitulah cara mereka mengunakan uang.

Kalaupun orang
kaya itu muslim, tidak berjudi, tapi dia tidak punya visi dakwah, dan dia tidak
punya visi dakwah, dan tidak hidup untuk satu misi besar dalam hidupnya, dia
pasti akan menggunakan uangnya untuk kesenangan pribadi, seperti perhiasan dan
seterusnya. Saya punya kawan, kalau dia pakai seluruh perhiasannya kira- kira
sekitar 2 juta dollar di badannya, cincinnya 1 juta dollar. Mobilnya ½ juta
dollar, jam tangannya bias sampai 2 milyar. Adalagi temannya kira- kira punya
200-an jam tangan. Sebuah jam tangan itu harganya kira- kira 2 milyar.

Lebih buruk lagi,
kadang- kadang orang kaya yang tidak baik memakai uangnya untuk memerangi
kebeikan. Itulah yang terjadi ketika orang- orang Yahudi memegang kendali
keuangan dunia. Maka dari itu menjadi kaya itu bagi kita adalah satu keharusan,
untuk mengembalikan keseimbangan social, kehidupan ditengah- tengah kita.

Ketiga, terlalu
banyak perintah syariah yang hanya bisa dilaksanakan dengan uang. Antum lihat 5
rukun Islam, Syahadat tidak pakai uang, sholat tidak pakai uang, puasa tidak
pakai uang tapi zakat dan haji pakai uang. Kalau 200 ribu orang umat IslamIndonesia

tiap tahun pergi haji. Rata- rata mengeluarkan 5000 dollar, coba antum kalikan
berapa banyak uang yang beredar untuk melaksanakan satu ibadah. Belum lagi
Jihad. Jadi kita tidak bias berjihad kecuali dengan uang. Misalnya kita di

Indonesia

sekarang mau pergi ke Palestina untuk pergi berperang, tenaga kita tidak
diperlukan karena tenaga sudah cukup dengan ada yang disana. Rasul Mengatakan
“Siapa yang menyiapkan seorang bertempur maka dia juga dapat pahala perang”.

Jadi banyak sekali
perintah- perintah Islam yang memerlukan uang. Waktu Rasulullah SAW hijrah ke
Madinah, diantara hadits- hadits pertama yang beliau smapaikan pada waktu itu
adalah Afsussalam wa ath’imu tho’am. Jadi mentraktir itu tradisi nabawiyah.
Sering- seringlah mentraktir karena itu perintah Nabi, dan ini turunnya di
Madinah pada saat menjelang mihwar daulah. Kira- kira di jaman kita inilah, di
mihwar dakwah sekarang. Washilul arham dan sambung dhilaturrahim. Antum akan
melihat nanti di akhir penjelasan saya nanti bahwa cirri- cirri orang maju itu
salah satunya adalah kalau belanjanya dalam 3 hal lebih besar daripada belanja
kebutuhan lauk- pauknya, salah satunya belanja komunikasi. Jadi kalau biaya
pulsa kita lebih tinggi itu indicator yang baik. Itu artinya silahturrahim kita
jalan. Jangan missed call, suruh orang telpon balik.

Keempat, Karena
harta itu adalah hal- hal yang dibanggakan oleh manusia sehingga menentukan
strata social. Antum akan lebih berwibawa dan didengar orang kalau punya uang.
Apabila tidak punya uang, biasanya kita juga biasanya jarang didengar oleh
orang. Misalnya dalam keluarga. Antum bersaudara ada 7 orang. Kalau kontribusi
financial antum dalam keluarga itu tidak banyak dan bila antum satu- satunya
da’I dalam keluarga, dakwah antum juga kurang didengar oleh keluarga. Karena
disamping ingin mendengarkan nasihat yang baik orang juga ingin mendapatkan
uang yang banyak. Hadiah- hadiah pada hari lebaran, infaq- infaq dan seterusnya
dan itu biasanya melancarkan dakwah kita.

Saya hadir pada
suatu waktu di sidang Ikatan anggota Parlemen Negara- Negara OKI. Setiap kali
ada waktu bertanya yang paling pertama diberi kesempatan bertanya itu utusan
dari Arab Saudi, sedangkan utusan dari Negara miskin seperti Maroko atau
Tunisia biasanya tidak dapat giliran, kalau bukan sendiri yang angkat tangan.
Masalah harta ternyat juga berpengaruh pada hal- hal seperti itu.

Pada tahun 1994
saya ke Jerman. Dua tahun baru selesai kuliah, disana saya bertemu dengan salah
seorang ikhwah pengusaha yang punya beberapa supermarket disana. Dia datang
menemui saya memakai Mercy. Saya protes kepada dia dengan semangat dakwah dan
jihad, antum itu tega pakai Mercy, saudara-saudara antum di Palestina disana
masih berjuang, antum hidup di Jerman ini pakai Mercy bagaimana ceritanya. Dia
bilang nanti saya jelaskan, antum ikut saya saja dulu. Saya diajak keliling
supermarketnya dulu. Orang itu memang kaya. Sudah keliling dia bilang, di
Jerman ini kalau kau ingin ketemu seorang direktur, begitu kamu parkir mobil
nanti direktur itu suruh sekretarisnya tengok dia itu pakai mobil apa. Jika kau
tidak pakai Mercy nanti sekretarisnya bilang Direktur sedang tidak ada. Kalau
kau pakai Mercy kau disambut baik-baik oleh mereka. Mercy ini wajib disini.

Itu hal- hal yang
dibangga-banggakan oleh manusia. Dan itu berkali- kali disebutkan dalam
Al-Qur’an. Oleh karena itu sebagai Muslim saya ingin didengarkan orang, apalagi
kita sebagai da’I kita perlu punya wibawa didepan orang. Sebagian dari wibawa
itu juga dibentuk oleh kondisi financial kita.

Ulama- ulama kita
juga meriwayatkan bahwa ternyata diantara hal- hal yang disenangi oleh wanita
kepada laki- laki salah satunya adalah uangnya. Perempuan itu katanya
menyenangi pada laki- laki kalau dia lebih pintar daripada si perempuan, kalau
dia lebih kaya daripada perempuan, lebih kuat daripada perempuan. Dan
kepemimpinan itukan

diberikan kepada laki- laki salah satu sebabnya karena kewajiban memberikan
nafkah itu. Kalau kita ingin berwibawa didepan istri tolong kewajibannya
ditunaikan dengan sempurna. Itu akan menaikkan wibawa kita didepan istri.
Seorang istri itu tidak hanya membutuhkan seorang suami yang romantis tapi juga
seorang suami yang romantis dan realistis.

Ada

seorang akhwat berkata kepada saya, saya
sebenarnya tidak materialistis tapi masalahnya kita realistis karena kita tidak
bias hidup tanpa materi. Dan kalau materi kita sedikit maka hidup kita juga
tidak akan nyaman. Sedikit banyak itu juga penting.

Kelima, harta itu salah
satu sebab yang dapat membuat orang itu bisa bahagia didunia. Jangan lagi
pernah bilang “biar miskin asal bahagia”. Sekarang perlu kita balik, “biar kaya
asal bahagia”.

Saya ingat guru
saya waktu SD selalu mencari kamuflase, bahwa walaupun kita miskin tetap bias
bahagia. Memang bias, tapi susah. Adalagi yang bilang “uang tidak bias membeli
cinta”. Memang tidak bias, tapi kalu kita jatuh cinta dan punya uang itu lebih
enak. Rasulullah SAW realistis sekali ketika dia mengatakan bahwa diantara yang
membuat orang itu bahagia adalah: Pertama, Istri yang sholehah, kedua, rumah
yang luas, dalam hadits lain disebutkan kamar- kamar yang banyak. Menurut
Syeikh Qordlowy yang disebut kamar- kamar itu minimal enam kamar. Satu buah
kamar untuk suami istri, sebuah kamar unruk anak laki- laki, sebuah kamar untuk
anak perempuan, sebuah untuk pembantu, dua buah kamar lainnya untuk kerabat
suami dan istri yang dating menginap di rumah. Itu 6 kamar tidak termasuk
dapur, ruang makan, ruang keluarga, ruang tamu, perpustakaan keluarga dan
musholla. Kelanjutan dari hadits tiu, dan kendaraan yang nyaman.

Antum perhatikan
Rasulullah mengatakan rumah dan kendaraan. Rumah itu adalah indicator
stabilitas dan kendaraan itu adalah indicator mobilitas. Rasulullah mengatakan
kendaraan yang nyaman bukan sekedar kendaraan. Naik angkot itu kendaraan tapi
belum tentu nyaman, tapi kalau ada sedan yang empuk sehingga kita bisa rehat,
itu lebih bagus. Pulang mengisi Liqa’, kalau kendaraanya nyamankan

sedikit mengurangi
kelelahan. Itu juga perlu garasi. Jika suaminya pengurus DPW, istrinya pengurus
DPW, maka masing- masing perlu kendaraan juga. Kalau anaknya 7 siapa yang
anatar anaknya sekolah, jadi minimal perlu 3 mobil.

Waktu saya tidak
punya mobil, saya punya motor. Anak saya sekolah di al- Hikmah, jadi kalau
pulang diantar sama keponakan saya, anak saya diikat, takut kalau tidur
sewaktu- waktu bias jatuh dari motor. Saya bilang saya dosa kalau anak saya
sampai meninggal, akhirnya saya menelepon teman saya, “tolong sediakan mobil
untuk saya”. Itulah pertama kali saya punya mobil. Dosa kita, kasihan anak itu
jatuh dari motor. Setengah mati kita pupuk- pupuk, kita lahirkan dengan baik,
tapi mati karena kecelakaan begitu.

Kalau suaminya
pengurus DPW dan istrinya aktif di salimah atau di PosWanita Keadilan

,

kan

perlu mobilitas juga. Masa suaminya pergi pakai mobil, sedangkan istrinya pergi
rapat kemana- mana sambil gendong anak. Dia sudah hamil 9 bulan, merawat anak,
malam tidak tidur. Kita zhalim juga terhadap istri kalau kita tidak memberikan
hal- hal yang membuat dia nyaman dalam kehidupan. Untungnya waktu kita menikah
dulu banyak akhwat kita yang tidak tahu hadits ini. Padahal dalam banyak
pendapat di berbagai madzhab misalnya di madzbhab Imam Syafi’I, apalagi Imam
Malik, kewajiban wanita itu yang sebenarnya hanya melayani suami dan mendidik
anak, sedangkan pekerjaan rumah tangga, mencuci dan seterusnya itu tidak
termasuk dalam kewajiban wanita.

Qiyadah- qiyadah
akhwat mengikuti daurah tingkat nasional kemarin di Jakarta. Coba bayangkan
akhwat- akhwat kita sebagian besar sarjana. Waktu kuliah dia direkrutkan

salah satu alasannya
karena dia anshirut taqyir dan otaknya brilian. Banyak akhwat kita Indeks
Prestasinya 4,1 begitu 10 tahun menikah, dia sudah tidak nyambung lagi dengan
suaminya kalau bicara, karena dia mengalami stagnasi intelektual. Tiba- tiba
dia mengerjakan semua semua pekerjaan pembantu rumah tangga, dia melahirkan
juga, melayani suami juga, memasak juga, mencuci juga, dan kadang- kadang kita
terbawa oleh romantika perjuangan, rasnya heroic melihat istri mencuci, suami
pulang dakwah dalam keadaan lelah, istri dirumah mencuci, mengepel lantai.
Sepuluh tahun kemudian kita dielus- elus oleh istri, kita piker sedang dipijit,
padahal hanya dielus- elus karena tangannya dipakai untuk mencuci, jadi
tangannya sudah bukan tangan ratu. Sementara suami pegang pulpen, pegang kertas
karena sibuk mengisi halaqah, sedangkan pekerjaan yang kasar- kasar dikerjakan
oleh istri. Sudah saatnya pekerjaan- pekrjaan begitu kita delegasikan kepada
mesin. Jangan buang waktu di dapur, di tempat mencuci. Delegasikan kepada
mesin. Kita ini orang- orang pilihan dari umat kita. Berapa banyak orang yang
sarjana di negeri ini, sedikit. Makanya kalau capres syaratnya S-1 calonnya
juga nanti sedikit. Saya tidak setuju kalau capres itu syaratnya S1, tamat SD
pun bisalah. Sebagian besar orang ikut. Jadi yang bias merasakan pendidikan
tinggi itu barang elit di negeri ini.

Jadi kalau akhwat
kita yang sarjana itu setelah menikah disuruh jadi pembantu rumah tangga atas
nama kesetiaan, ketaatan, cinta dan sejenisnya maka kita telah berbuat zalim
terhadap SDM kita sendiri. Mungkin akhwat kita itu sabar- sabar, dia menerima
keadaan. Tetapi walaupun dia menerima keadaan kita kehilangan potensi, kita
kehilangan umur- umur terbaik.

Sebenarnya kalau
dipacu untuk dakwah, untuk kepentingan lebih besar, lebih strategis, faedah
yang didapat pun akan jauh lebih besar. Waktu kita ini tidak akan cukup
mengerjakan hal- hal tersebut, maka belilah waktu orang lain. Hitung- hitung
kalau beli tenaga pembantu kita buka lapangan kerja, kita bukan hanya
mendelegasikan pekerjaan kita juga buka pekerjaan bagi orang lain.

Kira- kira itulah
5 alasan mengapa kita perlu kaya. Memang, walaupun kita miskin kita masih bisa
bahagia, tapi itu jauh lebih susah. Bahkan terkadang kekayaan itu lebih
mendekatkan orang kepada Allah SWT dibanding kemiskinan. Makanya Rasul
mengatakan tentang minum susu, makan habbatussauda’, madu. Coba kalau antum,
misalnya, tidur diatas kasur yang empuk dalam ruangan ber-AC, tidur 2 jam itu
bias sangat nyenyak. Apalagi minum susu hangat sebelum tidur. Bangun pagi minum
madu campur habbatussauda’.

Saya kira kita
perlu memperbaiki dan melihat kembali pemahaman keagamaan seperti ini secara
benar. Sehingga kita jangan menganggap kemewahan itu justru melelehkan orang
tapi bikin nyaman. Inilah 5 alasan mengapa kita harus kaya.

Sekarang saya
ingin lebih jauh menembus kembali mengapa kita miskin selama ini. Sebabnya kita
miskin adalah: Pertama, karena kita memiliki pemahaman agama yang salah. Salah
satunya 5 alasan tadi tidak beredar dikalangan kita. Sekarang coba kita tonton
acara TV, nonton acara ceramah subuh di televisi. Kita akan lihat sebagian
besar ceramah- ceramah televisi itu menyuruh orang- orang miskin itu semakin
miskin atas nama kesabaran. Bahakan ada perang terhadap materialisme, karena
kita harus zuhud sekarang. Pemahaman tentang kezuhudan itu salah satu pemahaman
yang paling banyak merusak kita. Karena kita tidak tahu bedanya orang zuhud
dengan orang miskin.

Imam Ghazali
mengatakan orang zuhud itu adalah orang yang punya dunia lalu meninggalkannya
dengan sadar. Orang miskin itu adalah orang yang ditinggal dunia. Kalau ada
orang miskin tidak dapat makan lalu puasa senin-kamis itu bukan orang zuhud.
Itu orang miskin yang berusaha memaksimalisasi kondisi keterbatasannya agar
tetap dapat pahala. Daripada tidak makan dan tidak dapat pahala lebih bagus
tidak makan dapat pahala. Orang zuhud itu orang pasca dunia kalau orang miskin
itu orang pra dunia. Kita lihat Rasulullah SAW itu sudah kaya raya sebelum jadi
Nabi.

Kemiskinan
Rasulullah yang kita baca di hadits- hadits itu adalah kemiskinan atas pilihan.
Itu adalah pilihannya karena dia punya misi yang jauh lebih besar, yakni: yang
begini itu dia tidak perlu lagi, sudah selesai. Bahkan Rasulullah mengatakan
semua nabi- nabi itu sebagian besarnya kaya. Tidak ada lagi nabi yang diutus
setelah nabi Syu’aib melainkan pasti dia berasal dar keluarga kaya dari kaumnya.

Rasulullah itu
mengenal uang waktu umurnya 8 tahun, dia mulai kerja dan mendapatkan gaji.
Pekerjaan pertamanya mengembala kambing. Umur 12 tahun dia sudah pulang pergi
luar negeri ikut dalam bisnis keluarga. Umur 15 sampai 19 tahun ikut dalam
perang sehingga punya pengalaman militer. Umur 20 tahun Rasul sudah jadi
pengusaha investornya adalah Khadijah. Watu umur 25 tahundia nikah dengan
investornya. Berapa maharnya? Seratus ekor unta. Berapa harga seekor unta
sekarang? Jauh lebih mahal dari 1 ekor sapi. Kira- kira 10 juta 1 ekor unta
jadi totalnya 1 Milyar. Anak muda 25 tahun punya uang cash 1 Milyar. Itu
maharnya tapi yang disimpan itu masih ada.

Walaupun
Rasulullah SAW setelah menjadi Nabi mengatakan sebaik- baik wanita adalah
wanita yang cantik dan mahar yang murah, itu sebagai system tapi tradisi
jahiliyah itu status. Oleh karena itu, waktu pamannya yang bernama Abu Thalib
menyampaikan khutbah nikahnya sebagai sambutan keluarga pada pernikahan
Rasulullah SAW, beliau mengatakan sesungguhnya orang Quuraisy tahu bahwa
Muhammad salah seorang pemudanya yang terbaik, yang paling terhormat. Layaklah
dia nikah dengan khadijah karena maharnya tersebut. Pemuda 25 tahun punya uang
1 Milyar, sedangkan kita 25 tahun baru selesai Perguruan Tinggi dan karya
terbesar kita adalah menulis lamaran kerja. Ini pemahaman keagamaan yang
beredar dikalangan kita yang membuat kita ini miskin.

Itu sebabnya di
Zaman penjajahan dahulu para penjajah itu dengan sengaja menghidupkan kelompok-
kelompok sufi ditengah masyarakat. Paham sufiyah dihidupkan supaya orang- orang
miskin itu tidak pernah bermimpi menjadi kaya dan merasa benar bahwa dia
miskin. Maka langkah pertama menuju kekayaan adalah perbaiki dulu pemahaman
keagamaan kita.

Saya dahulu
sekolah di pesantren 6 tahun, tempatnya dulu itu di hutan, bahkan tidak ada
mobil lewat disana, kalau kita inginmendapatkan kendaraan umum kita harus jalan
3 km terlebih dahulu. Pada suatu hari ada badai dating dan menerbangkan seluruh
atap gedung, masjid, dan seluruh benda yang ada disitu. Semuanya mudah
diterbangkan karena bangunan yang ada adalah bangunan murah semuanya. Tiap hari
kita makan hanya nasi dan kecap selama 6 tahun. Setiap kali kita makan, guru
saya selalu bilang ini nasi akan membuat kamu besar. Cuma butuh waktu. Karena
itu fisik saya kecil karena pada masa pertumbuhan kita tidak mendapatkan gizi
yang baik dengan alasan latihan, sabar, perjuangan.

Waktu itu saya
bilang ini sekolah sengaja disimpan jauh darikota

karena

kota

itu
neraka, disini kita hidupdengan cara yang benar. Waktu itu saya mau ke

Jakarta

untuk kuliah, saya minta guru saya istikharah buat
saya, satu bulan kemudian saya datang dan dia mengajurkan kepada saya untuk
kuliah di

Jakarta

saja di LPIA, karena LPIA itu selingkar syurga yang dikelilingi oleh neraka.
Itulah pemahaman keagamaan yang kita warisi.

Waktu saya kuliah
di LPIA juga belajar syariah namun tetap tidak ada yang mengajarkan kita
pemahaman keagamaan yang benar tentang kekayaan.

Kedua, karena kita
tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang tidak mengajarkan kita dasar- dasar
yang benar untuk menegakkan kehidupan. Lihat kurikulum yang kita pelajari.
Tidak satupun yang kita pelajari di sekolah itu benar- benar kita pakai dalam
kehidupan real kita. Sekarang belajar bahasa Inggris sejak kelas 4 SD sampai
Perguruan Tinggi. Tahun pertama itu 10 tahun, tetapi TOEFL kita tidak bagus-
bagus. Padahal bahasa itu adalah sarana komunikasi yang seharusnya menjadi
basic. Begitu juga tentang uang. Kita tidak pernah sama sekali belajar
disekolah tentang uang. Saya dulu belajar hitung dagang di sekolah tapi itu
pelajaran yang paling kita tidak suka.

Jadi lingkungan pendidikan
kita juga seperti itu. Setelah kita tarbiyah pun hal- hal seperti itu belum
diajarkan. Mungkin karena satu hikmah ataupun lainnya yang tidak kita ketahui.
Tetapi kalau kita membaca literature yang ditulis oleh Imam Hasan Al- Banna,
sebenarnya perhatian kearah ekonomi itu justru malah lebih besar dari awalnya.
Bahkan muncul gagasan ekonomi Islam itu adalah anjuran dari beliau. Salah satu
rintisan dari beliau untuk memperbaiki kehidupan ekonomi ummat Islam. Oleh
karena itu saya menganjurkan kepada ikhwah di kaderisasi untuk segera membuat
materi tatsqif tentang uang, karena itu perlu.

Ketiga, karena
kita ini memiliki ciri- ciri orang miskin dalam kepribadian. Ciri orang miskin:

Pertama, orang
miskin itu tidak pernah bermimpi jadi orang kaya. Kalau kit abaca buku the
millionaire mind (pemikiran milioner), di dalam buku tersebut disebutkan fakta
bahwa di kalangan orang miskin itu berkembang ide- ide yang membuat mereka itu
miskin. Salah satunya karena memang mereka tidak punya mimpi jadi orang kaya. Waktu
sekolah saya pernah ikut kursus keterampilan membuat sepatu, jadi saya bisa
membuat sepatu. Karena kita mindsetnya disiapkan untuk menjadi buruh, kalau
tidak bisa menjadi guru bahasa Arab akhirnya menjadi tukang sepatu. Kita lihat
rintisannya. Jadi kita tidak pernah punya mimpi untuk menjadi kaya. Contohnya,
kalau kita lihat orang pakai mobil Mercy, tidak pernah terpikir oleh kita kalau
kita juga ingin punya mobil Mercy. Yang terpikir oleh kita adalah tega-teganya
orang ini pakai Mercy.

Pertama kali Ketua
Majelis Syuro membangun rumah, banyak sekali ikhwah yang protes. Saya bilang
kenapa kalian protes. Dia pinjam uang antum. Saya datang ke rumahnya, Masya
Allah rumahnya bagus. Ya Allah berikanlah saya model rumah yang seperti ini.
Kalau kita melihat mobil bagus, rumah bagus, hinggap sebentar di mobil itu,
sapu baik- baik lalu berdo’alah.

Ketika tinggal di
rumah mertua, saya bisa tinggal di tempat yang luasnya beberapa ribu meter.
Cuma saya bilang, saya tidak ingin didominasi oleh mertua. Jadi setelah menikah
saya bilang saya mau keluar dari rumah ini. Kata mertua saya, “Kamu mau tinggal
dimana?” Itu urusan saya, satu tahun saya sudah tinggal di sini. Saya keluar.
Lalu saya kontrak rumah. Rumah saya itu mirip kandang ayam, triplek- triplek
saja.Ada

3
petak rumah, kalau kita bersin disini akan terdengar oleh semua tetangga.
Lantainya sebagian itu berupa tanah dan saya pun tidak punya kasur. Saya punya
kasur setelah anak ke-3 saya lahir. Istri saya kalau sudah hari Sabtu atau
Minggu mengajak pulang. Saya tahu dia ingin balik kesana. Tapi kita belajar
menata hidup kita sendiri, tidak tergantung dari orang.

Setiap hari saya
lewat di depan sebuah rumah besar halamannya luas. Kalau saya lewat rumah itu
saya berjalan pelan- pelan sambil menunggu bis dari Al- Manar. Saya melewati
rumah itu yang terletak di pojok halaman yang luas dan ada banyak pohon-
pohonan. Saya usap itu temboknya. Alhamdulillah rumah itu menjadi rumah saya.
Apabila saudara antum punya mobil, antum jangan marah padanya. Jangan Tanya
uangnya dari mana. Jangan Tanya seperti itu. Antum pegang mobilnya, usap- usap
mobilnya.

Sekarang kalau
saya mau ke DPP tiap hari lewat Menteng, lewati rumah yang bagus- bagus, disitu
juga ada masjid yang besar bernama Sunda Kelapa. Saya suka berdo’a juga disitu.
Ya Allah, saya ingin tinggal disamping masjid ini, bagaimana caranya atur ya
Allah. Syurga aja kita pinta, apalagi rumah. Suatu waktu saya pernah naik
private jet punya Abu Rizal Bakrie waktu itu jauh sebelum era partai karena
saya suka ceramah dirumahnya. Kita pergi naik private jet nya. Enak juga naik
private jet. Saya berdo’a juga disitu. Saya juga ingin yang seperti ini karena
enak. Syurga aja kita pinta apalagi seperti ini.

Kemarin Muraqib
’Am ditanya oleh kader. Kadernya protes, “Ustadz Hilmi anggota dewannya sudah
mulai pada borju semuanya. Di jawab oleh ustadz Hilmi mereka tidak borju cuna
menyesuaikan penampilan dengan lingkungan pergaulannya. Jadi kalau ikhwah pada
kaya- kaya saya juga bahagia. Saya paling senang kalau ada ikhwah yang punya
private jet, perlu didorong itu. Jadi kita tidak perlu belanja tiket lagi kalau
ingin ke Riau. Tidak terikat dengan jadwal penerbangan regular. Dan saya Tanya
harga private jet itu, setidak-tidaknya kita sudah tahu harga private jet itu.

Sewaktu-waktu saya
naik mobil Land Cruiser punya teman saya, mobil saya Kijang. Saya bilang
mobilmu lebih enak dari mobil saya. Dia bilang kenapa. Saya bilang saya pikir
mobil saya itu lebih enak dimuka bumi, ternyata mobil bapak lebih enak. Memang
mobil kamu apa, saya jawab Kijang. Dia bilang, “Oh itu mobil masa lalu saya”.

Ikhwah sekalian.

Karakter orang
miskin itu harus kita hilangkan, itu sebabnya kita miskin. Karena tidak punya
mimpi menjadi orang kaya.

Kedua, kita ini
umumnya tidak ulet. Senang difasilitasi. Dan, ada karakter yang buruk di
Melayu, pada umumnya senang diberi hadiah daripada memberi hadiah. Bahagia dan
bangga kalau ditraktir makan daripada kalau mentraktir makan. Kalau kita ingin
menjelaskan orang Cina lebih kaya dibanding kita di negeri ini, karena dia
lebih rajin bekerja.

Saya pernah
mengisi pelatihan di Telkom, saya suruh tulis mimpi-mimpi mereka semua. Saya
kasih kertas besar, mereka menulis dan menggambar. Hampir semua mereka membuat
gambar yang sama. Sebuah rumah disampingnya ada sawah-sawah, disampingnya ada
masjid, kemudian ada pesawat terbang dan ada ka’bah. Saya suruh menjelaskan.
Dia bilang nanti saya berharap insya Allah sudah naik haji sebelum pensiun,
setelah pensiun nanti saya punya rumah di desa di sampingnya ada sawah- sawah,
disampingnya lagi ada masjid. Jadi dia Ibadah kerjanya. Saya bilang bapak
pensiun umur berapa. Dia bilang 55 tahun. Mau menghabiskan sisa umur di desa di
samping masjid dan disamping sawah. Kalau bapak diberi umur 80 tahun oleh Allah
SWT berapa sisa umur bapak, 25 tahun akan bapak habiskan disamping sawah.
Begitu cara kita berfikir, kita menghindari tantangan.

Saya pernah
ceramah di Direktur BULOG, dia mau pensiun dini, dia tinggalnya di Patra
Kuningan dekat rumahnya Pak Habibie. Saya diminta mengisi ceramah dirumahnya
tentang menajemen harta untuk lansia. Yang hadir itu angkatan 63 UGM dari
Fakultas Ekonomi semuanya. Saya bilang bapak setelah pension nanti mau tinggal
dimana. Dia bilang mau balik ke kampung halamannya di Solo. Saya Tanya Solonya
dimana. Dia bilang agak ke pinggir sedikit. Dia sudah punya rumah disana
disampingnya ada sawah- sawah, ada masjid, persis seperti gambar orang Telkom
itu. Saya bilang kenapa tidak tinggal diJakarta

.
Dia bilang siapa yang bisa tahan tinggal di

Jakarta

setelah pension. Biaya mahal, anak
saya sedang pada kuliah semuanya saya tidak kuat nanggung.

Coba kita lihat
waktu pendapatan kita berkurang yang kita lakukan itu adalah mereduksi dan
mengurangi kegiatan kita supaya kita menyesuaikan diri dengan pendapatan,
seharusnya ketika pendapatan kita berkurang bukan kegiatan yang kita reduksi
tapi yang kita lakukan adalah tetap memperbanyak kegiatan dan menambah
pendapatan. Jadi saya bayangkan kalau bapak di kasih umur 80 tahun, bapak akan
tinggal di kampong itu selama 25 tahun. Sekarang saya coba menghayal- hayal
kira- kira jadwal hariannya seperti apa. Jam 3 insya Allah dia akan bangun
qiyamul lail sampai subuh dia sudah tidak tidur karena orang kalau sudah diatas
40 tahun kebutuhan tidurnya sebetulnya Cuma 2 jam, setelah subuh mungkin dia
nanti wirid, setelah itu dia pergi jalan pagi, mungkin aktifitas jalan pagi dan
lainnya selesai jam 7. Setelah itu dia mandi lalu sarapan dia baca Koran.
Katakanlah selesai jam 9 setelah itu dia shalat dhuha. Setelah itu tanda Tanya
karena tidak ada kegiatan yang dia lakukan. Lalu masuk waktu zuhur sebelumnya
dia punya waktu 3 jam, setelah itu dia makan siang setelah itu dia bangun tidur
siang, bangun ketika ashar. Ashar sampai maghrib dia lakukan duduk- duduk di
teras minum kopi sambil memandang sawah. Sebelum maghrib dia mandi, setelah
maghrib dia makan malam sampai isya mungkin dia mengaji. Setelah shalat isya
melihat televisi sebentar setelah itu dia tidur lagi. Kita lihat tidak ada
waktunya yang produktif. Orang ini 25 tahun menunggu kematian. Kematian itu
tidak perlu ditunggu nanti dia akan dating sendiri kenapa kita tunggu- tunggu
dia.

Kita lihat cara
kita merencanakan hidup. Seharusnya di usia seperti itulah kita bekerja makin
giat karena jadwal kita makin dekat. Kematian kita makin dekat bukan makin
terserah tetapi begitulah pikiran yang ada pada orang- orang miskin. Orang-
orang ini tidak ulet, menghindari tantangan, tidak ingin kerja kers. Karena itu
rata- rata jadwal kerja orang miskin itu dibawah 8 jam. Sementara jadwal kerja
orang kaya itu diatas 15 jam. Wajar kalau mereka jadi kaya karena jam kerja
mereka juga banyak.

(Sambungan dari Bagian 2)

Oleh : Ust. Anis Matta, Lc

PKS di masa yang
akan dating tidak bisa mengendalikan kehidupan ini semuanya kalau hanya
berkuasa di Negara tetapi tidak menguasai pasar. Tidak mungkin. Sekarang ini
kita akan menemukan secara individu, banyak individu yang lebih kaya dari
Negara. Oleh karena itu gabungan dari beberapa individu justru dapat dengan
mudah mengintervensi Negara dan memiskinkan Negara. Kalau kita hanya masuk ke
dewan, padahal dewan itu hanyalah bagian kecil dalam panggung Negara, masih ada
eksekutif masih ada yudikatif. Kita hanya punya sedikit di dewan itu, dan di
dewanitu masih sedikit pula. Kita lihat daerah kekuasaan kita, dakwah ini ke
depan hanya bisa menekan, menguasai, mengendalikan situasi kalau kita punya
orang yang terdistribusi secara merata, memimpin Negara, memimpin civil
society, dan memimpin pasar. Baru kita akan digjaya sebagai sebuah gerakan
dakwah.

Ketiga, bagaimana
kita memulai membangun kehidupan financial kita.
Pertama, perbaiki ide kita tentang uang. Ide itu adalah wilayah kemungkinan,
“space of possibility”. Semua yang menjadi mungkin dalam ide kita pasti akan
menjadi mungkin dalam realita. Ide itu adalah tempat penciptaan pertama
sedangkan realitas itu adalah tempat penciptaan kedua. Jadi tidak ada realitas
yang terjadi dalam kehidupan ini tanpa sebelumnya tercipta pertama kali dalam
ide- ide kita. Sebelum pesawat terbang itu di ciptakan yang pertama kali dahulu
adalah ide bagaimana manusia dapat terbang seperti burung. Jadi begitu sesuatu
jadi mungkin dalam ide kita, ia bisa menjadi mungkin dalam kenyataan.

Sekarang
perbaikilah ide- ide kita tentang uang. Belajarlah utuk mempunyai mimpi besar
tentang uang. Belajarlah untuk membuat daftar rencana, Insya Allah ketika saya
meninggal nanti saya mewariskan sekian banyak uang. Buatlah step ide ini luas.
Karena kalau space of possibility kita ini luas maka space of reality kita jadi
luas. Kalau kita lihat mobil, belajarlah mempunyai selera yang bagus.

Supaya ide- ide
ini tumbuh dengan baik kita perlu dari sekarang membaca sebuah buku tentang
uang. Bacalah buku diantaranya The Millionaire Mind, ada dua buku yang ditulis
oleh penulis yang sama karena ini adalah risetnya. Selanjutnya The Millionaire
Dead. Ini adalah penelitian yang dilakukan terhadap cara berpikir orang- orang
kaya yang ada di Amerika. Kemudian buku One Minute Millionaire (Bagaimana
menjadi Milliuner dalam 1 menit) dan ini juga punya website, kita bisa masuk
websitenya, mereka punya psikotest kalau kita ingin mengetahui apakah kita
punya talenta jadi orang kaya atau tidak.

Alamat websitenya www.oneminutemillionaire.com.
Buku yang ketiga adalah semua buku Robert T Kiyosaki. Yang ke-4 ini buku lama
tapi termasuk buku- buku awal yang dibaca orang tentang uang yaitu buku yang
ditulis oleh Napoleon Hill, Think and Grow Rich, Berfikir dan menjadi Kaya.
Buku terakhir ini adalah buku yang sangat lama karena diterbitkan pada tahun
80-an dan ditulis tahun 70-an, tapi menurut saya rasa masih masih relevan untuk
dibaca. Ini buku- buku dasar semuanya bagi pemula. Dan saya rasa penting juga
untuk mendapatkan landasan syar’I yang bagus tentang hal ini apabila kita baca
juga buku yang ditulis oleh syeikh Yusuf Qordlowi tentang nilai- nilai moral
dalam ekonomi Islam.

Perbaiki dahulu
ide kita tentang uang, perbaiki tsaqafah tentang uang dan mulailah mempunyai
mimpi besar untuk menjadi orang kaya, supaya kita Insya Allah naik derajatnya
dari amil zakat menjadi muzakki. Supaya kita datang kepada orang jangan lagi
bawa proposal, itu yang benar. Sering- seringlah ke tempat- tempat mewah,
jalan- jalan saja untuk memperbaiki selera.

Saya punya 1
halaqah yang terdiri dari anak- anak LIPIA. Mereka datangnya dari kampong, dari
pesantren semuanya. Saya tahu mereka membawa background, di backmindnya itu ada
psikologi orang kampung yang tidak pernah bermimpi menjadi orang kaya. Saya
Tanya kamu nanti setelah selesai dari LIPIA mau kemana? Mereka bilang Insya
Allah kita mau pulang ke kampung mengajar ma’had, mengajar bahasa Arab. Suatu
hari saya ajak mereka, hari ini tidak liqa’, tetapi saya tunggu kalian di Hotel
Mulia. Saya ada di suatu tempat dan mereka tidak melihat saya. Saya suruh
mereka berdiri di lobby. Mereka datang pakai ransel karena mahasiswa datang
pakai ransel, diperiksa lama oleh security, karena penampilannya sebagai orang
miskin dicurigai membawa bom. Saya lihat dari atas. Itu masalah strata, kalau
antum datang pakai jas dan dasitidak ada yang periksa antum di ditu, karena
yang datang pakai ransel tampang kumuh.

Kemudian mereka
bertanya dimana antum ustadz, saya bilang antum tunggu saja disitu. Saya dekat
mereka tapi mereka tidak bisa melihat, saya hanya memperhatikan apa yang mereka
lakukan. Kira- kira 2 jam mereka saya suruh di situ, mondar- mandir di lobby.
Minggu depan saya Tanya apa yang antum lihat disana. Orang lalu lalang, jawab
mereka.

Saya Tanya,
pertama, apakah ada satu orang yang lalu lalang yang antum lihat yang mukanya
jelek, dia bilang tidak ada. Semuanya ganteng- ganteng semuanya cantik- cantik.
Jadi ada korelasi antara wajah dan kekayaan. Makin kaya seseorang makin baik
wajahnya. Kedua, ada tidak yang memakai pakaian yang tidak rapi kecuali antum.
Dia bilang tidak ada, semuanya rapi. Jadi dengan latihan seperti ini pikirannya
sedikit mulai terbuka. Karena ia membawa bibit dalam pikirannya untuk menjadi
orang miskin. Sekarang Alhamdulillah mereka bertiga sekarang ini sedang kuliah
di UI ambil S2 Ekonomi Islam.

Ikhwah sekalian
jadi kita perbaiki insting kita. Pertama kali kita perbaiki tsaqafah kita. Jadi
hadirkan buku- buku itu kedalam rumah dan mulai dari sekarang anak- anak kita
juga mulai di ajari tentang uang. Ikutilah kursus- kursus tentang entrepreneurship
supaya kita dapat memperbaiki dulu citra kita tentang uang.

Kedua, menyiapkan
diri untuk menjadi kaya. Orang- orang kaya yang bijak itu mempunyai nasehat
yang bagus, mereka mengatakan “sebelum anda menjadi kaya latihanlah terlebih
dahulu menjadi kaya”. Hiduplah dengan hidupgaya

orang kaya. Orang kaya itu optimis. Bagi
orang kaya biasanya tidak ada yang susah. Bagi mereka semuanya mungkin, karena
itu mereka selalu optimis. Jadi yang harus dihilangkan dari kita adalah
pesimis. Saya punya seorang teman sekarang jadi kaya, dia datang ke Jakarta
hanya sebagai pelatih karate dan tidak ada duitnya, tapi supaya tidak ketahuan
oleh istrinya bahwa dia tidak punya pekerjaan, setiap habis sholat subuh dia
pergi lari olahraga, setelah itu dia memakai pakaian rapi lalu keluar rumah.
Dia juga tidak tahu mau kemana yang penting keluar rumah. Istrinya tidak tahu
kalau dia tidak punya pekerjaan. Nanti dijalan baru ditentukan siapa yang dia
temui hari ini.

Langkah pertama
perbaiki dahulu sirkulasi darah kita, olahraga dulu, supaya wajah segar makan
yang banyak. Banyaklah makan yang enak, daging. Sering- seringlah makan yang
enak.

Menurut Utsman bin
Affan makanan paling enak itu adalah kambing muda. Setiap hari mereka makan
kambing muda. Makan yang enak, olah raga yang bagus supaya wajah kita berseri.
Syeikh Muhammad Al- Ghozali dalam kitab Jaddid Hayataka mengatakan kenapa
orang-orang Barat itu pipinya merah, karena sirkulasi darahnya bagus, gizinya
bagus. Sedangkan kita orang- orang Timur kalau ketemu itu auranya pesimis, tidak
ada harapan. Biasakanlah kalau orang ketemu kita ada harapan yang terlihat,
makanya kalau pilih warna baju pilihlah yang cerah- cerah.

Ibnu Taimiyah
mengatakan ada hubungan antara madzhab dan batin kita, pakaian apa yang kita
pakai itu mempengaruhi kondisi kejiwaan kita. Jangan pakai pakaian orang tua.Ada

anak umur 25 tahun
pakaiannya pakaian orang tua, bagaimana nanti kalau umurnya 50 tahun pakaiannya
seperti apa. Tampillah sebagai anak muda.

Cukur rambut yang
bagusbagus, cukur kumis yang rapi janggut dirapikan. Rapi, supaya kita
kelihatan ada optimisme. Belajarlah sedikit latihan menatap supaya sorotan mata
kita kuat, perlu sedikit latihan menatap. Misalnya di pagi hariatau sore hari
menjelang matahari terbenam, antum tatap matahari dan tidak berkedip matanya.
Kalau bisa antum bertahan 1 menit itu bagus. Latihan saja sendiri. Di dalam
kamar ambil lilin, matikan lampu, antum tatap lilin dan matanya tidak berkedip
dan tidak berarir. Nanti kalau sudah terbiasa pandangan matanya kuat. Jadi
kalau olahraga teratur, sirkulasi udara bagus, pikiran jadi segar, tsaqafah
kita bertambah mulai memakai pakaian yang cerah- cerah. Makanya Rasulullah itu
senangnya memakai baju putih. Jangan pakai yang gelap- gelap atau warna yang
tidak menunjukkan semangat hidup. Jangan juga berpenampilan seperti orang tua.
Sekadar untuk menunjukkan kita ini kelompok orang- orang shaleh kita pakai baju
taqwa, itu pakaian orang Cina.

Pakailah baju yang
segar agar dapat menunjukkan bahwa kita ada semangat. Walaupun anda sudah
berumur pun tetap pakai pakaian yang muda, jangan berpenampilan tua. Artinya
kita harus merendahkan diri, sebab uban tanpa diundang dia akan datang. Jadi
tidak perlu menua- nuakan diri dengan sekadar tampil kelihatan dewasa, tua,
bijak. Tampillah sebagai anak muda yang gesit dan optimis.

Ketiga, bergaullah
dengan orang- orang kaya, perbanyak teman- teman antumdari kalangan tersebut.
Ini tidak bertentangan dengan hadits yang mengatakan bahwa bab rezeki lihatlah
kepada yang dibawah dan jangan lihat yang ada di atas. Antum tidak sedang tamak
ke hartanya, tetapi antum sedang belajar kepada mereka. Dahulu saya suka
ceramah di kalangan orang- orang kaya.

Waktu saya ceramah
di rumahnya Abu Rizal Bakrie yang saat itu sedang berduit- duitnya, saya duduk
dalam 1 karpet, ketika krismon pada waktu itu, sekretarisnya bilang pada waktu
itu, tahu tidak bearapa harga karpet ini. Saya bilang saya tidak tahu, saya
pikir sajadah biasa. Dia bilang karpet itu harganya 100 ribu Dollar. Karpet
kecil harganya 1,6 M.

Waktu saya selesai
ceramah dikasih amplop, amplopnya tipis. Saya bilang sama sekretarisnya. Ini
amplop kembalikan kepada dia. Bilang sama beliau saya Cuma ingin berkawan
dengan dia. Dia belajar agama sama saya, saya belajar dunia sama dia. Kalau
saya terima ini, nanti saya dianggap ustadz dan dia tidak dengar kata- kata
saya. Saya mau bersahabat dengan dia. Jangan kasih saya amplop lain kali.
Supaya kita bergaul. Setiap kali saya datang ke kelompok yang pengusaha kaya
itu saya selalu menolak, saya tidak terima ini saya ingin bergaul dengan bapak,
saya ingin jadi teman.

Alhamdulillah dari
situ saya banyak teman dari kelompok orang- orang kaya, dan kalau datang kita
belajar, saya bertanya sama mereka kenapa begini, bagaimana caranya, bertanya
kita belajar. Memang di jurusan saya dia belajar dari saya kalau ada yang perlu
dido’akan panggil saya, bisa. Tapikan

saya tidak punya ilmu bikin duit sebelumnya, saya perlu belajar dari orang yang
ahli. Jadi dalam bab itu saya murid, dalam bab saya dia murid.

Jangan karena kita
sering ceramah, terus semua orang kita anggap murid dalam segala aspek. Saya
bergaul dengan orang- orang kaya dan saya belajar dengan mereka. Saya belajar
bagaimana caranya bikin duit, bagaimana caranya bikin perusahaan sama- sama dan
saya tidak malu. Bergaul dengan mereka itu dari sekarang. Jangan tamak pada
hartanya tetapi ambil ilmunya. Jangan minder bergaul dengan orang kaya seperti
itu.

Awal lahirnya
reformasi, setelah kalah dalam pemilu 1999, kita Poros Tengah kumpul di
rumahnya Fuad Bawazir. Semua orang diam, ada Amin Rais, Yusril, semuanya diam
karena malu. Karenanya kita semua kalah, tadinya sombong semua. Pak Amin Rais
mengatakan sebelum Pemilu “Nanti Golkar kita lipat- lipat, kita tekuk- tekuk,
kita kuburkan dimasa lalu”. Tidak tahunya Golkar masih di nomor 2. Partainya
Pak Amin rendah perolehan suaranya. Suara umat Islam rendah. Jadi berkumpullah
orang- orang kalah ini semua dalam 2 hari.
Waktu itu Pak Amin sedang dikejar- kejar terus oleh Dubes Amerika untuk membuat
pernyataan bahwa pemenang pemilu legislative yang paling layak jadi Presiden,
tapi Pak Amin menghindar. Jadi saya datang ke rumah Pak Fuad Bawazier. Saya
bilang Pak Fuad, saya ini bukan orang politik, saya ini ustadz. Yang saya
pelajari dalam syariat kita ini kalau kita sedang kalah seperti ini jalan keluarnya
adalah i’tikaf, kita belajar banyak istighfar, tilawah dan seterusnya. Jauhi
dulu wartawan, mungkin dosa- dosa kita banyak sehingga kita kalah. Dia bilang
bener juga ya. Cuma kalau kita i’tikaf diIndonesia

tetap saja diketahui
wartawan.

Kalau begitu kita
umrah. Antum ikut ya dari PKS umrah. 4 orang dari PAN, dari PKS sekitar 3
orang. 4 orang ini naik bisnis first class, sedang kita dikasih ekonomi. Yang
beli tiket dia soalnya. Mau diprotes bagaimana. Kita Cuma dihargai begini,
terima apa adanya dahulu. Tapi waktu itu dengan lugu datang menghadap Pak Fuad.
Saya bilang Pak Fuad berapa harga tiket first class. Dia bilang pokoknya 2 kali
lipat harga ekonomi. Jadi kalau tiket ekonomi pada waktu itu 1000 Dollar harga
first class itu sekitar 2000 Dollar. Kenapa kita sama- sama di kelas ekonomi
saja, dan selisihnya kita infaqkan untuk orang miskin. Inikan

masyarakat kita lagi susah. Dia ketawa
dia bilang ya akhi, nanti ana infaq lagi insya Allah untuk orang faqir, tapi
ana tolong dong di first class tidak mungkin ana turun di kelas bawah.

Kita tidak tahu
apa nilai yang berkembang pada orang kaya, kenyamanan itu adalah nilai pada
mereka. Mereka menghemat energi, tenaga. Dan, angka besar pada kita itu angka
kecil bagi mereka. Uang 1 Milyar 2 Milyar itu uang jajan. Kalau kita, belum
tentu punya tabungan sampai mati seperti itu. Itu masalah cita rasa. Cita rasa
pada orang kaya itu berbeda. Ini yang kita pelajari, yang dianggap besar oleh
mereka adalah ini. Dengan begitu kita menjiplak sedikit emosinya. Karena dalam
pergaulan itu, kalau kita bergaul dengan seseorang itu, kalau bukan api dia
parfum. Kalau dia parfum dia menyebarkan wangi, kalau dia api menyebarkan
panas. Orang jahat itu api, kalau antum dekat-dekat akan menyebarkan panas.
Orang baik itu parfum, kalau antum dekat-dekat setidak-tidaknya bau badan kita
tertutupi oleh parfum tersebut. Jadi ikut- ikut karena kita perbaiki selera.
Jadi kalau antum punya waktu kosong jalan- jalanlah ke mall, lihat-lihat orang
kaya tidak usah belanja, lihat-lihat saja dulu, memperbaiki selera.

Datanglah ke
showroom mobil, datang ke pameran mobil. Lihat- lihat pegang- pegang. Rajinlah
berdo’a. Bergaullah dengan orang kaya. Selain itu, rajinlah berinfaq walaupun
kita miskin. Gunanya apa? Supaya antum tetap menganggap uang itu kecil dan
supaya tidak ada angka besar dalam fikiran kita.

Misalnya kita
punya 10 juta, infaqkan. Supaya antum meneguhkan, mesti ada yang lebih besar
dari ini. Jadi angka it uterus bertambah di kepala kita, walaupun dalam
kenyataannya belum. Tetapi dengan berinfaq seperti itu, kita memperbaiki cita
rasa kita tentang angka. Bukan sekedar dapat pahala tetapi efek tarbawinya bagi
kita akan bertambah terus.

Kita belum pernah
merasakan bagaimana menginfaqkan mobil, sekali waktu kita berusaha untuk
menginfaqkan mobil. Begitu antum punya uang sedikit terus berinfaq, terus
seperti itu kita latih sampai menjaga jarak. Kita membuat sirkulasi jadi bagus.

Kelima adalah
mulailah melakukan bisnis real. Terjun ke dalam bisnis secara langsung. Karena
Rasulullah SAW mengatakan 9 per 10 rezeki itu ada dalam hal perdagangan.

Saya juga ingin
menasehati ikhwah- ikhwah yang sudah jadi anggota DPR dan DPRD, jangan
mengandalkan mata pencaharian dari gaji DPR dan DPRD. Itu bahaya. Sebab belum
tentu kader-kader di Riau ini nanti masih menginginkan Pak Khairul untuk
periode selanjutnya.

Belum tentu juga
juga jama’ah menunjuk kita lagi sebagai anggota dewan, padahalgaya

hidup sudah berubah.
Anak-anak kita kalau kenalan dengan orang, bapak saya anggota dewan padahal itu
hanya sirkulasi. Jadi setiap kali kita mendapatkan pendapatan dari gaji karena
pekerjaan seperti ini, kita harus hati- hati itu bahaya. Jadi pendapatan paling
bagus itu tetap dari bisnis. Oleh karena itu, mulai sekarang itu belajarlah
terjun ke dunia bisnis.

Jatuh bangun waktu
bisnis tidak ada masalah, terus saja belajar. Tidak ada juga orang langsung
jadi kaya. Yang antum perlu terus berbisnis. Begitu juga dengan para ustadz,
teruslah bisnis. Begitu juga dengan seluruh pengurus DPW-DPD dan seterusnya.
Teruslah berbusnis. Lakukan bisnis sendiri sekecil- kecilnya. Tidak boleh
tidak. Itulah sumber rezeki yang sebenarnya. Kalau antum mau kaya sumbernya
adalah dagang. Rezeki itu datangnya dari 20 pintu, 19 pintu datangnya dari
pedagang dan hanya 1 pintu untuk yang bekerja dengan keterampilan tangannya,
yaitu professional.

Misalnya akuntan
itukan

professional, pekerja pintar, tapi kalau sumber rezekinya satu makanya uangnya
terbatas. DPR juga begitu sumbernya satu, yakni gaji bulanan itu hanya 5 tahun.
Itu pun kalau tidak di PAW sebelumnya. Jadi kalau saya ketemu dengan ikhwah
dari dewan, hati-hati jangan sampai mengandalkan mata pencaharian dari situ.
Selain itu potongan dari DPP, DPW, DPD juga besar. Untuk ma’isyah sendiri kita
harus cari sumber lain.

Waktu kita terjun
ke bisnis, kita pasti gagal. Gagal pertama, gagal kedua, gagal ketiga, gagal
keempat tapi teruslah jangan pernah putus asa. Saya punya patner bisnis. Dia
mulai bisnis umur 16 tahun, semuajenis pekerjaan sudah dia lakukan. Pada suatu
waktu dia mempunyai 38 perusahaan tapi dari 38 perusahaan ini hanya 6 yang
menghasilkan uang. Kita lihat berapa ruginya. Jadi seringkali kita salah
pandang terhadp orang kaya. Kita piker tangan dingin semua yang disentuh jadi
uang. Ternyata tidak juga.

Jadi hal- hal
seperti itu harus kita hadapi secara wajar jangan shock kalau rugi. Jangan
berfikir dengan berdagang antum akan cepat kaya, yang menentukan antum cepat
berhasil dalam dagang itu adalah secepat apa antum belajar. Cara belajar itu
ada dua: baca buku atau sekolah atau bergaul dengan orang- orang sukses, nanti
kalau sudah baca buku sudah bergaul dengan orang sukses masih gagal juga.
Teruslah berdagang, teruslah bergaul, teruslah seperti itu karena setiap orang
tidak tahu kapan saatnya dia ketemu dengan momentum lompatannya.

This entry was published on Desember 12, 2008 at 3:53 pm and is filed under Artikel. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

2 thoughts on ““Uang”

  1. Duh panjang amat…sampe mata berkunang-kunang..^_^
    Tapi..Jazakallah y..artikelnya bagus..walau berkunang-kunang tetep pengen terus2an dibaca..^_^

    Yang belum baca..Ayo dibaca..!!!

    • hehehe,, makasih.. Nah Lo.. itu khan tulisan Ust.. Anis Matta,,
      ya.. pokoknya,, makasih dah berkunjung di blog yang sederhana ini,,,🙂

      // bener tuh yang belum baca… buruan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: