Izzi_tea

Murabbi : Birokratis atau Demokratis????

liqoSedikit tergelitik ketika membaca salah satu rubrik di Warnaislam.com, rubrik tanya jawab Ust.Ahmad Sarwat dimana pada satu kesempatan ada seorang Ikwan (laki-laki) yang menanyakan kepada beliau “Apakah Menikah itu harus Satu Jama’ah/Harokah”. Tapi bukan masalah menikah bukan satu Harokah yang ingin saya obrolkan pada saat ini tapi ada bagian ungkapan menarik yang disampaikan Ust.Ahmad Sarwat  di akhir jawaban beliau atas pertanyaan Ikhwan tersebut.

Nah, karena tidak baku dan tidak standar, jadilah setiap murobbi bikin aturan main yang beda-beda. Ada yang super ketat, sampai binaanya para rontok dengan sendirinya, ada juga yang tarik ulur, tapi sebagian lagi ada yang diistilahkan dengan ‘moderat’.

Saya tidak tahu murobbinya calon istri antum itu termasuk kelompok yang mana. Kalu seandainya termasuk yang moderat, berbahagialah antum. Sebab walau pun antum tidak dianggap bagian dari mereka, tapi masih diterima. Tapi kalau tipologinya yang super ketat dan sok birokratis gitu, hmm siap-siap nangis aja lah. Bukan apa-apa, bisa jadi antum tidak direkomendasikan

Nah… itu dia yang ingin saya obrolkan, walaupun sebelumnya saya tidak bermaksud mengkotak-kotakan atau membanding-bandingkan “Birokratis atau Demokratis”, karena hakikat manusia mempunyai sifat yang berbeda-beda,, tetapi mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dari hal tersebut. Sebab idealnya seorang Murabbi itu menjadi Syeikh yang selalu membimbing, menjadi seorang ayah yang mengayomi, menjadi teman yang selalu mendengarkan “curhatan” kita….. dan kita memohon kepada Allah, apapun posisi kita saat ini “Murabbi atau Mad’u”, bisa menjadi Inspirasi bagi Halaqoh-halaqoh kita.

Kembali Ke……. -Birokratis atau Demokratis- obrolan ini berawal dari pencarian “teman Sejati”, karena saya sendiri menemukan kasus seperti di atas, baik Ikhwan atau Akhwat. Ketika ada seseorang yang berniat menikah tetapi tidak se-Harokah atau dengan yang se-Harokah tetapi dengan pilihan sendiri. Nah.. di lapangan ternyata kebanyakan kasus di atas menjadi permasalahan yang berujung terputusnya Silaturahim dan bukannya memutuskan Silaturahim itu sesuatu perbuatan buruk.

Pada hakikatnya keputusan menikah dengan siapapun itu adalah keputusan pribadi yang tidak bisa dipaksakan oleh siapapun hatta orang tuanya sendiri (ter-khusus untuk laki-laki), tetapi untuk perempuan diharapkan dengan persetujuan walinya (Ayah), sebagaimana Hadist Rasulullah SAW (Imam Ahmad meriwayatkan hadits marfu’ dari Hasan, dari Imran Ibnu al-Hushoin) “Tidak sah nikah kecuali dengan seorang wali dan dua orang saksi.” Af1, klo menurut saya Murabbi tidak mempunyai hak untuk membuat keputusan dengan siapa kita menikah, hanya sebatas memberikan nasihat dan masukan.

Yang kedua adalah prosesnya (Ta’aruf), selama dalam proses yang kita jalani tidak menyalahi batasan Syar’i yang di tetapkan Allah dan Rasul-Nya, seperti Berkhalwat, dll. Maka tidak ada masalah, walaupun Ahsan dan Sebaiknya peran Murabbi atau orang ke-tiga sangat diperlukan.

Orang ke-tiga yang menjadi pelantara tidak selamanya harus Murabbi, tetapi apabila Murabbi bisa membantu secara maksimal maka hal tersebut sangat Ahsan. Karena terkadang kendala kesibukan Murabbi dll, menjadi alasan yang memang tidak bisa disalahkan jika kita mencari orang ke-tiga selain Murabbi.

Yang terakhir ialah kembali kepada kita sendiri yang akan mejalani. Tentu sebelum kita mengambil sebuah keputusan yang “Besar” itu, baik dan buruknya sudah kita pikirkan dengan matang-matang.. dengan segala resiko dan konsekuesinya, karena belum menjadi sebuah kepastian.. Jika menikah dengan pilihan Murabbi akan hidup bahagia,, tetapi arah kebahagiaan itu akan bisa terwujud manakala dari awal kita sudah di arahkan oleh seseorang yang sudah “berpengalaman” (Murabbi).

Kesimpulannya  : “Birokrasi atau Demokrasi” tidak menjadi permasalahan, yang terpenting adalah menghapus paradigma “kolot” “harus sesuai pilihan Murabbi.. TITIK..” klo nga, AWASS Loo_O,, heheh..

Saling Berprasangka baik, sebab saya yakin ketika ada murabbi tipe “Birokrasi”, beliau pasti berpikir itu ialah yang terbaik, Karena *Sekali lagi* Murabbi adalah sosok guru, ayah, teman yang akan selalu membimbing kita.

Sekarang masalahnya KOMUNIKASI antara Murabbi dengan Mad’u, komunikasi kretria yang diinginkan (ya Pastinya sebelum komunikasi kreteria “ngaca diri” dulu.. “jangan cari yang Ideal, tapi cari yang Cocok”.. — kata Ust.Anis Matta, Looo —-🙂

So, Apapun posisi kita.. Murabbi, Mad’u atau kedua-duanya, Yuuu…!!! Kita menjadi jalan Inspirasi kebaikan bagi halaqoh-halaqoh kita,, karena sebenarnya inti dari obrolan ini ialah. BICARA or KOMUNIKASI… dan Akhrinya : Mari Nge Teh, Mari Bicara… Loooo Khoooo_OOOO.. (maaf ya klo ga nyambung.. heheh)

Wallahu a’lam

* ini hanya pendapat saya.. klo ada yg salah mohon diluruskan. Oce Broo …..

This entry was published on Agustus 5, 2009 at 4:48 pm and is filed under Yaumi. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: