Izzi_tea

Amanah itu Seperti Cinta…. Session 2

Wess. Mantabss ada session 2 nya kaya “cinta Fitri” aja neh.. (Looo.. he..he), Yups, pembahasan “Amanah itu seperti Cinta” ternyata tidak hanya sampai pada note sebelumnya (Amanah itu Seperti Cinta..:D) tetapi ada satu hal lain yang ingin saya diskusikan bareng… Yaitu :

“Amanah itu Seperti Cinta, Jika Datang Tidak (susah) untuk di tolah. Tapi kalo belum Jodoh, Ya sudahlah.. Tolak saja”…😀

Walaupun isu (Cinta) aga sensitive,, tapi mudah2an anda yang membaca tidak mempolitisasi note ini, sehingga terjadi hal-hal yang tidak di inginkan yang akhirnya berdampak SISTEMIK.. he..he..

Di dalam bukunya Ust.Anis M (Serial Cinta) di salah satu tulisan nya beliau membagi macam2 cinta, ada cinta misi, cinta Jiwa dan cinta maslahat, Nah untuk jenis cinta ‘jiwa’ di perlukan ‘kerjasama’ antara kedua belah pihak pecinta… klo tidak, Ya… Sudahlah😀, berarti belom jodoh… berkaitan dengan amanah, ternyata eh ternyata, hal seperti itu (tolak menolak) ada dan mungkin sering terjadi. Tentunya dengan alasan yang bisa di’pertangung jawab’kan. Karena kita sering dihadapkan dengan berbagai amanah, sementara kapasitas dan waktu kita terbatas. Mungkin kita pernah ato sedang mengalami ‘penumpukan’ amanah yang berakibat tidak Amanah nya kita terhadap Amanah yang diberikan… dan selidik punya selidik salah satu ke tidak max kita menjalankan amanah ialah : Tidak Bisanya kita “Menjatuhkan” Sebuah Amanah.

Saya pernah membaca (judul :D) buku “Belajar Mengatakan Tidak”.. emm. Pada awalnya sih, ga ada respon terhadap buku tuh, “Ah. Gampang ‘mengatakan tidak’.. ko ada panduannya saja, gitu aja ko repot” cetus saya ketika membaca (Judul :D) buku tersebut, tetapi setelah ter-alami…. Ehhhh, sulit juga to.. perlu Trik ampuh untuk mengatakan TIDAK ketika ada amanah yang datang. Eh, sebentar.. perlu di perjelas lagi bahwa kata “TIDAK” tidak bisa dipakai dalam semua kondisi.. ‘jurus’ ini hanya di pakai jika kita terdesak saja.. :D… Aduhhhh.. jadi gini awal muasalnya :

Saat kita di amanahi sebuah amanah,, dan kata YA yang keluar dari mulut dan hati kita, saat itu juga sebuah ‘beban’ sekaligus ‘ladang amal’ menanti, sementara kapasitas tidak kita perhitungkan (Waktu, kafaah keilmuan, pengalaman. Dll) tidak kita perhitungkan.. So, ujung-ujung nya tidak Amanah. Rasulullah SAW pernah bersabda ;

” Serahkanlah segala urusan pada ahlinya jika tidak, maka tunggulah kehancurannya (Al-Hadits)”

Jika dihubungkan pada obrolan ini, kata ‘ahli’ dalam sabda Rasulullah SAW bisa berarti ‘ahli’ dalam hal kafaah keilmuan, waktu, pengalaman. Misalnya neh : saya kan orang teknik, di amanahi jadi dokter di acara Baksos Yankes (Bakti Sosial Layanan Kesehatan).. ya jelas dunk, kapasitas saya sebagai orang teknik mana bisa menggantika seorang dokter, bukannya pengobatan medis Eh jadi pengobatan Multimedia.. he..he (maaf contohnya terlalu mendramatisir), tapi kurang lebih nya seperti itu… setiap amanah yang datang, sebaiknya kita perhitungkan terlebih dahulu, apakah sanggup apa tidak.. bukan berarti kita menutup pintu pembelajaran, tetapi lebih kepada penanggung Jawaban amanah tadi, karena tidak dipungkiri ada sebab yang memang tidak bisa kita nafikan. Penyebab dimana udzur Syar’I berbicara disana. Salah satu nya ialah penumpukan Amanah… emm, mungkin anda pernah merasakan ato mengalami bahkan sekarang sedang mengalami, dapet Amanah disana, disini, dan disono… menurut sumber yang tidak bisa disebutkan namanya😀, kondisi penumpukan amanah itu, bisa berakibat Fatal bagi keberlangsungan sebuah Organisasi, sebab seperti yang kita bicarakan tadi.. dengan keterbatasan waktu dan kapasitas tenaga sebagai manusia hal tersebut bisa terjadi.

So… katakan TIDAK jika tidak bisa..

Belajarlah mencoba “menjatuhkan” amanah,, sebagai upaya “membangun” amanah lain..🙂

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (105) وَآَخَرُونَ مُرْجَوْنَ لِأَمْرِ اللَّهِ إِمَّا يُعَذِّبُهُمْ وَإِمَّا يَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaanmu, dan akan dikembalikan kepada Allah Yang Maha Mengetahui yang Ghaib dan yang syahadah, kemudian akan disampaikan kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan – Dan ada (pula) orang-orang lain yang ditangguhkan sampai ada keputusan Allah; adakalanya Allah akan mengazab mereka dan adakalanya Allah akan menerima taubat mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. “. (QS. at-Taubah; 9/105)

This entry was published on Februari 1, 2010 at 3:28 pm and is filed under Dunia Dakwah. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: