Izzi_tea

Mengambil peran di lautan media


Era nya telah lama berganti, Industri ke Informasi, mungkin sudah 30 tahun-an lebih, waktu yang relative lama, tapi perkembangan nya begitu pesat bahkan klo menurut saya, perkembangannya saat ini melebihi dari masa nya itu sendiri😀. Apalagi di era tahun 2000-an dimana ada satu “makhluk” lahir, makhluk yang saat ini begitu populer bahkan bisa jadi sebuah senjata… ya, senjata!!, makhluk itu bernama Social Media, makhluk yang secara tidak langsung melahirkan sebuah “sub-makhluk” baru lagi, dimana arus informasi terlihat sangat dinamis, yang tidak hanya berpola pada satu arah… bisa 2,3,4 bahkan mungkin jutaan dinamika🙂

Sebenarnya obrolan ini awalnya terinspirasi dari tulisannya p.nukmat luthie (bermakna dilautan social media), tulisan yang mengisahkan tentang cara pandang beliau akan arus media social yang begitu besar nya di tanah air tercinta ini, pertama beliau menyoroti mengenai data statistic pengguna social media yang pertumbuhannya begitu dasyat, untuk lengkap nya silahkan anda lihat video di bawah ini, dan semoga ada tidak dibuat kaget oleh nya🙂

 

Nah kembali ke tulisan p.nukmat luthie, jujur saya terus terngiang-ngiang oleh judul tulisan beliau “bermakna di lautan social media”, tentu kata lautan disana mengartikan sesuatu yang sangat luas, dengan segala hirup pikuk ‘lautan’nya, dimana kita menjadi bagian kecil di dalamnya. Yang bisa jadi, kita bisa berperan menjadi ikan teri yang hanya menjadi objek, atau menjadi ikan hiu sang predator ‘antagonis’.. atau menjadi lebih ‘mulia’ manakala manjadi lumba-lumba yang berperan jadi ‘pahlawan’. Nah itu semua itu menjadi sebuah pilihan yang nanti coba kita diskusikan.🙂

Disana juga dijelaskan mengenai tangga teknografi social yang diperkenalkan oleh Forester Reaseach, tangga yang memisahkan antar beberapa ‘kasta’ di social media yang antara lain :

Tangga Teknografi

  1. Creators (pembuat) 24 %
  2. Conversationalist (Narabincang) 33%
  3. Critics (kritikus) 37%
  4. Collectors (kolektor) 20%
  5. Joiners 59%
  6. Spectators (penonton) 70%
  7. Inactives (tidak melakukan apa-apa)17%

Untuk lebih jelasnya silahkan baca kutipan tulisan p.nukman luthie :

Di tangga teratas, ada golongan yang disebut sebagai Creator. Ciri utamanya adalah: memiliki blog atau website pribadi yang rajin diperbarui serta membuat dan mengupload audio atau video karyanya ke website (bisa YouTube misalnya). Khusus untuk Indonesia, mengingat beratnya mengupload video dan audio, ciri ini bisa disederhanakan menjadi: memiliki blog dan rajin memperbaruinya.

Blogger memang tepat digolongkan sebagai pekarya. Mereka berkarya membuat tulisan, apapun kategorinya, ekonomi, bisnis, musik, hiburan, cerita. Apapun juga bentuknya, bisa dalam bentuk teks, gambar, audio maupun video. Di Indonesia, sudah ada beberapa yang berkarya dan menyebarkannya dalam bentuk audio di Internet seperti Indonesia Bercerita (indonesiabercerita.org).

Di anak tangga kedua ada Conversationalist. Mereka adalah para pengguna Facebook dan Twitter yang rajin menulis status. Meraka tidak memiliki blog. Tapi mereka rajin menulis, meski hanya 140 karakter di Twitter, atau 300 karakter di Facebook, atau di media sosial lain seperti Linked-In atau bahkan Friendsters. Meski bukan creators, mereka cerewet. Apapun mereka tulis di status, mulai dari barang yang mereka konsumsi, diri sendiri, hingga urusan kantor, tak luput dari update di media sosial.

Menariknya, 140 karakter, jika ditulis rutin, membawa pengaruh cukup besar. Sebuah tulis di blog, dengan seribu karakter lebih, memang memiliki pengaruh besar terhadap pembacanya. Namun 140 karakter di Twitter dan Facebook juga punya pengaruh, jika diulang-ulang atau disebarkan oleh pengguna lainnya sehingga membentu viral.

Di bawah kedua tangga di atas, masih ada anak tangga lain, yang disebut sebagai Critics (tak punya blog, tidak mengupdate status di Twitter/Facebook, namun mengomentari blog/tulisan orang lain),  Collectors (menggunakan RSS, memanfaatkan tag), Joiners (sekadar bergabung ke jejaring sosial), Spectators (membaca informasi di berbagai jejaring sosial tapi tak punya akun), dan Inactive (tak melakukan apaun).

Namun, hanya dua segmen teratas, yakni Creator dan Conversationalist, yang berperan besar dalam mempengaruhi publik/konsumen pada umumnya mengambil keputusan. Oleh karena itu, jika ingin membangun citra diri dan bermakna di media sosial, syarat utamanya adalah anda harus berada di tangga teratas, yakni memiliki blog/website sendiri, yang rajin diperbarui. Lalu gunakan Facebook dan Twitter sebagai media untuk penyebarannya, sekaligus menjalin komunikasi cepat. Tepatnya, menjadi creator sekaligus conversationalist!

Jadi sudah jelas kan.. factor untuk bisa jadi ‘hiu’ atau ‘lumba-lumba’ diluas nya lautan media ini.. ya, harus menjadi seorang creator sekaligus conversationalist!, itu harga mutlak yang harus di bayar, dan tentunya di bayar dengan tidak ‘murah’ karena untuk bisa berada di puncak tangga teknografi harus di bayar dengan waktu, tenaga, bahkan dana yang tidak sedikit, lantas apa yang didapat ketika kita sudah berada dipuncak tangga tersebut :

Kepuasan Idealisme dan tujuan

Maaf mungkin aga sedikit ‘naif’ klo kita berbicara idealisme di tengah media yang penuh konspirasi kependingan dan bisnis, tapi di balik itu semua masih ada segelintir yang tetap konsisten pada idealisme serta tujuan mereka untuk KONSISTEN, walaupun terkadang kata konsisten itu sendiri bisa di artikan berbeda oleh tiap individu, karena bagaimanapun juga hitam dan putih, ‘hiu’ dan ‘lumba-lumba’ selama nya akan tetap ada. Untuk idealisme cukup sampai disini aja ya🙂

Lalu kepuasan tujuan?…  Klo kita melihat history para creator, rata-rata awal tujuan nya tidak muluk-muluk, hanya sekedar ingin berbagi. contoh Raditya dika, dari seorang blogger menjadi artis & penulis buku, awalnya hanya iseng berbagi ‘catatan hariannya’ dan ternyata ke isengan nya tersebut menjadi sebuah jalan karir menjadi seorang penulis sekaligus artis dan banyak kisah juga, yang antara lainnya :

Yodhia Antariksa, yang tekun menulis blog mengenai strategi majemen di www.strategimanajemen.net.  Tulisannya sangat renyah dan mudah dicerna, tapi isinya berbobot.  Melalui blognya itu, namanya kian tenar di kalangan manajer, terutama Human Resource, dan rerzekinya terus mengalir dari sini. Ia pun kemudian melahirkan bisnis online menjual materi presentasi manajemen….dan laku!

Hanifa Ambadar, yang semula iseng membuat blog mengenai fashion di http://www.fashionesedaily.com kini naik pangkat menjadi pengusaha karena blognya menjadi blog komersial yang disukai banyak perempuan di Indonesia.

Tujuan awalnya cuman keisengan dan ingin berbagi, dan kepuasan mencapai tujuan nya pun tercapai, selain itu ada kepuasan tujuan lain yang bisa jadi itu menjadi nilai + yang diantaranya bisa berupa bertambahnya materi, teman, jaringan, branding. Dll… tapi yang harus di ingat bahwa rata-rata tujuan awalnya “hanya” ingin berbagi dengan nya lain. Tidak lebih, perkara setelahnya dapat nilai + itu urusan yang lain, sebab kita pasti mengetahui bahwa nilai mamfaat berbagi kebaikan itu akan berlipat ganda, seperti yang Rasulullah SAW sabdakan bahwa ada 3 kebaikan (amal) yang tidak akan terputus walaupun orang tersebut sudah tiada yang salah satunya ialah ilmu yang bermamfaat. Dan tidak berlebihan jika saya menyebutkan bahwa tulisan yang mungkin amatir yang sederhana ini bisa menghasilkan mamfaat bagi orang lain, dan ketika saya sudah tiasa lalu ada yang membaca tulisan ini dan menghasilkan mamfaat kebaikan.. otomatis tanpa mengurangi kebaikan tersebut saya pun dapat kepuasan tujuan yang lain yaitu tujuan mendapatkan kebaikan🙂

Duh ga kerasa udah jam 00:52 neh dan lumayan ngantuk.. hehe, sebenarnya sih masih aga panjang lagi ngobrol2 nya, tapi berhubung ini juga sudah panjang😀.. Insya Allah nanti di lanjut bagian kedua.

Oh iya sebelumnya maaf, obrolan ini hanya untuk mengingatkan saya aja akan penting nya “mengambil peran dilautan media” sekaligus controlling juga, karena Insya Allah sekarang dah mulai ‘sadar’:mrgreen: untuk meng-KONSISTEN kan diri, pa lagi punya cita-cita harus bisa nulis min 1 buku dalam hidup ini.. heheh, jadi klo misalnya nanti sudah melenceng dari jalan yang ‘benar’😆 .. harap di ingatkan lagi😀

Izzi rider // blog seputar otomotive sepeda motor

Mank-izzi // blog tutorial & sharing seputar web design, photoshop, front end developer dan gadget

Izzi blog // yang ini mah ngaler-ngidul😆

This entry was published on Oktober 8, 2011 at 3:33 am. It’s filed under Artikel, berbagi >> Blog, Tehnologi and tagged , , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

2 thoughts on “Mengambil peran di lautan media

  1. wah berarti kita berada dalam hasta tertinggi ya..:) pembuat kontent..hayoo bermakna di lautan social dengan mebuat konten

    • Ya engga juga kan yang tertinggi itu “creator” sekligus “Conversationalist”.. harus terpenuhi.. tapi lumayan lah.. dari pada ga ngapa-ngapain.. betul ga:mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: